Suasana ruang pertemuan terasa sunyi senyap sore itu. Para Tetua duduk berjajar rapi di sisi kiri dan kanan ruangan, wajah mereka dipenuhi ekspresi waspada dan penuh pertimbangan. Di kursi utama, di ujung paling depan, Leluhur Sekte Api Langit duduk dengan sikap tegak dan sorot mata tajam.

Di barisan depan kursi para tetua, tak jauh dari Leluhur, seorang pria dengan pakaian tempur asing duduk dengan tenang. Lynx, sosok misterius yang namanya kini memenuhi pembicaraan seluruh sekte, masih mengenakan baju tempurnya untuk menyembunyikan identitasnya. Di sisinya, Ling Mei dan Lala duduk dengan ekspresi tegang, menunggu perkembangan situasi.

Leluhur Sekte menatap pria yang duduk di depannya, sorot matanya menyelidik penuh kewaspadaan. Ia telah mendengar laporan dari para tetua, telah menyaksikan sendiri kemampuan lawannya, dan kini menyadari bahwa masalah ini jauh lebih kompleks dari yang terlihat di permukaan. Sosok yang dituduh sebagai pembunuh Ketua Sekte yang juga adalah anak kandungnya sendiri, memiliki kekuatan yang bahkan melampaui dirinya. Leluhur tidak bisa lagi hanya mengandalkan emosi, ia harus menggali lebih dalam dan menentukan apakah pria ini musuh atau sekutu.

Di sekeliling ruangan, para tetua saling bertukar pandang. Tidak ada yang berbicara, seolah tak tahu harus mulai dari mana. Atmosfer yang kaku dan penuh ketegangan membuat waktu seakan berjalan lebih lambat.

Lynx, menyadari kebuntuan ini, perlahan berdiri dan membungkuk memberi hormat.

"Salam, Leluhur Sekte Api Langit," ucapnya dengan suara tenang namun penuh ketegasan. "Aku telah mendengar tuduhan yang dilayangkan kepadaku sebagai pembunuh Ketua Sekte kalian. Namun, kuharap kalian dapat berpikir dengan jernih dan bersama-sama mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya."

Leluhur mendengus ringan. Matanya yang masih dipenuhi kesedihan menatap sosok di hadapannya dengan tajam. "Banyak yang bisa mengaku tidak bersalah, tetapi tidak semua dapat membuktikannya."

"Aku akan menjelaskan." Lynx tetap berdiri tegak, sama sekali tak gentar menghadapi sorotan tajam itu.

Dia mulai menceritakan apa yang terjadi, sesuai dengan rencana yang ia, Ling Mei, Lala, dan Li Wei susun sebelumnya saat Leluhur masih tak sadarkan diri. Namun, ada beberapa bagian yang sengaja ia ubah, menyesuaikan keadaan tanpa merusak inti cerita.

"Saat aku berjalan di dekat sekte kalian, aku merasakan getaran energi yang sangat kuat dari arah sekte ini. Sebuah formasi besar telah diaktifkan, dan aku segera menyelidikinya. Anehnya, tidak ada satu pun penjaga yang menghentikanku. Aku langsung masuk dan menemukan kalian semua dalam bahaya," Lynx menjelaskan dengan nada datar, namun cukup jelas untuk didengar semua orang.

Tatapannya menyapu ruangan, lalu berhenti pada para tetua. "Kalian lebih mengetahui permasalahan internal sekte ini. Aku hanya datang untuk menghentikan mereka agar tidak membantai kalian. Aku juga menyelamatkan Nona Ling Mei, yang saat itu terikat dan terluka parah akibat racun. Setelah mengobatinya, aku baru mengetahui bahwa Ketua Sekte kalian telah diculik, maka aku segera mengejar para penculiknya."

Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap dalam benak para tetua sebelum melanjutkan.

"Aku berhasil mengejar mereka, Ketua Sekte bersama Tetua Xie sedang mengalami kesulitan menghadapi rombongan sekte kegelapan. Aku tidak melihat pria tua yang telah mencelakai kalian, sepertinya pria tua tersebut bermusuhan dengan sekte kegelapan dan terjadi pertempuran diantara mereka. Lalu aku menyelamatkan ketua dan tetua kalian dengan membunuh kedua pemimpin rombongan mereka dan memastikan lokasi itu aman sebelum pergi. Setelahnya, aku melanjutkan perjalanan pulang," lanjutnya dengan suara mantap.

Lynx mendesah pelan, lalu menggelengkan kepala. "Aku baru mengetahui kabar kematian Ketua Sekte pagi ini, itulah sebabnya aku segera datang ke sini. Dan melihat kalian dalam masalah lagi sehingga aku terpaksa turun tangan lagi. Namun, seperti yang kalian lihat, aku malah disalahpahami. Padahal, niatku adalah membantu kalian sekali lagi dengan mengusir musuh yang menyerang."

Ruangan kembali hening. Semua yang hadir mencerna kata-kata Lynx, dan perlahan, ekspresi ragu mulai muncul di wajah beberapa tetua.

Leluhur Sekte tidak langsung bereaksi. Matanya yang tajam masih mengamati Lynx, mencoba mencari celah dalam ceritanya. Namun, semakin ia merenung, semakin banyak hal yang terasa janggal. Jika Lynx benar-benar ingin membunuh Ketua Sekte, mengapa dia repot-repot menyelamatkan para murid dan tetua? Jika dia memiliki kekuatan untuk menumbangkan pemimpin Sekte Kegelapan, mengapa ia tidak langsung mengambil Kunci Dimensi?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di benak Leluhur, tetapi ia belum menemukan jawaban yang memuaskan.

Namun, satu hal menjadi jelas, masalah ini belum berakhir.

Setelah diam sesaat menganalisis cerita yang disampaikan, Leluhur mengerutkan alisnya. "Sekte Kegelapan? Jadi mereka juga terlibat?"

Lynx mengangguk. "Benar. Sepertinya mereka memiliki tujuan yang sama, menyerang Sekte Api Langit. Namun, mereka juga saling bersaing."

Leluhur termenung. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit dibaca. Ia tahu betul seberapa besar ancaman yang ditimbulkan oleh Sekte Kegelapan. Setelah beberapa saat berpikir, ia kembali bertanya, "Kalau begitu, mengapa kau membiarkan lima Grandmaster Sekte Kegelapan itu pergi? Apakah kau tidak tahu bahwa banyak pihak telah berusaha menghancurkan mereka karena kejahatan yang telah mereka lakukan?"

Para tetua yang hadir ikut menatap Lynx, menunggu jawabannya.

"Aku sengaja melepaskan mereka," jawab Lynx dengan tenang. "Aku telah menanamkan sedikit jejak energiku di salah satu dari mereka. Tidak cukup untuk menyadarkannya, tetapi cukup untuk melacak keberadaan markas mereka. Rencanaku adalah mengikuti jejak itu dan menghancurkan mereka di sarang mereka sendiri."

Ruangan kembali sunyi. Beberapa tetua tampak terkejut, sementara yang lain mulai mengerti maksud Lynx. Namun, ekspresi Leluhur berubah drastis.

"Tapi aku telah membunuh mereka semua..." ucapnya pelan, dengan nada yang sarat akan penyesalan.

Lynx tersenyum tipis. "Benar. Dan dengan itu, jejak yang kutinggalkan pun menghilang. Sederhananya, kita kehilangan kesempatan untuk menemukan markas mereka dengan mudah."

Leluhur menghela napas berat. Tangannya mengepal di atas sandaran kursi. Ia tahu bahwa tindakannya didasarkan pada emosi dan kemarahan karena mendengar berita tentang kematian anaknya.

"Baiklah," ujarnya akhirnya. "Itu kesalahanku."

Lynx menggeleng pelan. "Tidak sepenuhnya. Aku mengerti mengapa Leluhur mengambil tindakan itu. Kemarahan dan kehilangan dapat mengaburkan penilaian siapa pun. Tapi yang terpenting sekarang adalah mencari tahu siapa sebenarnya pembunuh Ketua Sekte kalian."

Sorot mata Lynx berubah tajam. "Aku dengar Tetua Xie yang pertama kali mengatakan bahwa aku adalah pembunuh Ketua Sekte. Dimana dia sekarang?"

Para tetua saling berpandangan, sebelum Tetua Lian akhirnya menjawab dengan nada serius, "Itulah yang menjadi masalah. Setelah kami kembali dengan jasad Ketua Sekte, Tetua Xie tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Tidak ada seorang pun yang melihatnya pergi, dan kami belum menemukannya hingga saat ini."

Lynx terdiam sesaat, dia sudah mendengar dari Li Wei mengenai tetua Xie yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Lynx yakin tetua Xia adalah satu-satunya kunci untuk menemukan petunjuk tentang kematian ketua Sekte.

Leluhur menyentuh janggutnya, merenung dalam-dalam. Situasi ini terlihat semakin rumit. Jika benar ada pihak lain yang bermain di balik layar dan menyebar fitnah, maka mereka harus bergerak cepat sebelum semuanya terlambat. Leluhur menatap Lynx lebih dalam. "Lalu bagaimana aku bisa mempercayaimu? Aku bahkan tidak tahu siapa dirimu sebenarnya. Kau bersembunyi di balik pakaian misterius itu, tidak ada yang tahu asal-usulmu."

Lynx tersenyum samar. "Jika itu yang menjadi ganjalan, maka aku akan menunjukkan diriku yang sebenarnya. Tetapi aku hanya akan memperlihatkan siapa diriku yang asli hanya di depan Leluhur. Semua orang harus keluar dari ruangan ini."

Para tetua dan tokoh sekte langsung menolak.

"Tidak bisa!" salah satu tetua berseru. "Bagaimana jika kau berniat membunuh Leluhur?"

"Dia benar!" kata tetua lainnya. "Kami tidak bisa membiarkan Leluhur berduaan dengan orang yang belum jelas identitasnya!"

Namun, Leluhur Sekte Api Langit mengangkat tangannya, meminta mereka untuk tenang. "Aku bisa menjaga diriku sendiri. Jika dia memiliki niat buruk, pertarungan tadi sudah cukup membuktikan bahwa aku tidak bisa melawannya. Tidak ada gunanya khawatir berlebihan."

Dengan sedikit ragu, para tetua akhirnya mengalah dan meninggalkan ruangan, meski tetap berjaga di luar.

Begitu hanya tersisa mereka berdua, Lynx meletakkan tangannya di sabuknya, mengalirkan sedikit energi. Pakaian tempurnya perlahan menghilang, menyatu kembali dengan sabuknya, memperlihatkan sosok aslinya.

Leluhur Sekte Api Langit membelalakkan matanya.

Di hadapannya kini berdiri seorang pemuda yang tampak biasa saja. Energi kultivasinya hanya berada di tingkat Forging Qi tingkat dua. tingkatan yang bahkan lebih rendah dari murid-murid inti sekte!

